Tangantangan Demokrasi di Era Media Sosial dan Peran Generasi Muda

Karawang || Derasnya arus informasi di media sosial dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda dalam menjaga kualitas demokrasi. Karena itu, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Dea Eka Rizaldi, mengajak anak muda untuk membangun budaya kritis, santun dan bertanggung jawab dalam menyampaikan pendapat.

Hal tersebut disampaikan Dea Eka saat mengisi pemateri dalam agenda Pendidikan Demokrasi yang digelar di MP Mini Soccer, Jalan Raya Kosambi-Telagasari No. 7, Desa Belendung, Kecamatan Telagasari, Kabupaten Karawang, Sabtu (5/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Dea Eka menilai perkembangan teknologi telah membuka ruang yang luas bagi generasi muda untuk menyampaikan aspirasi, kritik maupun gagasan. Namun, kemudahan tersebut menurutnya harus diimbangi dengan kemampuan memilah informasi serta memahami konsekuensi dari setiap pernyataan yang disampaikan di ruang publik.

Ia mengingatkan agar generasi muda tidak terburu-buru mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.

Menurutnya, sikap kritis dalam demokrasi bukan berarti bebas menyampaikan apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya. Kebebasan berpendapat harus tetap disertai data, etika dan penghormatan terhadap orang lain.

“Demokrasi hari ini tidak hanya berlangsung di ruang-ruang formal. Media sosial juga menjadi ruang demokrasi. Karena itu, setiap pendapat yang kita sampaikan harus dibangun dengan data, etika dan rasa tanggung jawab,” ujar Dea Eka.

Selain persoalan informasi, Dea Eka juga mengajak generasi muda untuk memahami bahwa perbedaan pendapat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari demokrasi.

Menurutnya, masyarakat tidak harus memiliki pandangan yang sama dalam setiap persoalan. Yang terpenting adalah bagaimana perbedaan tersebut disikapi melalui dialog dan tetap menjaga persatuan.

“Berbeda pilihan bukan berarti harus bermusuhan. Justru kedewasaan demokrasi terlihat ketika kita mampu berbeda pendapat, tetapi tetap menjaga persaudaraan dan persatuan,” katanya.

Dea Eka juga mendorong anak muda Karawang agar tidak hanya menjadi penonton dalam kehidupan bermasyarakat. Generasi muda, kata dia, perlu terlibat dalam organisasi, kegiatan sosial maupun forum masyarakat sebagai ruang untuk belajar menyampaikan gagasan dan memahami berbagai persoalan di lingkungan sekitar.

“Anak muda harus berani masuk ke ruang-ruang publik. Jangan takut menyampaikan gagasan, tetapi jangan pula merasa paling benar. Dengarkan orang lain, berdiskusi dan cari solusi bersama,” tuturnya.

Ia menambahkan, pendidikan demokrasi tidak semata-mata berbicara mengenai pemilu dan politik. Lebih jauh, pendidikan demokrasi harus mampu membangun karakter masyarakat yang menghormati hukum, perbedaan pendapat serta hak orang lain.

Dea Eka berharap generasi muda dapat menjadi bagian dari terciptanya kehidupan demokrasi yang sehat, baik dalam kehidupan nyata maupun di ruang digital.

“Demokrasi membutuhkan anak muda yang kritis, berani dan bertanggung jawab. Mari gunakan kebebasan untuk membangun, bukan untuk menjatuhkan. Karena suara generasi muda hari ini akan ikut menentukan arah masa depan masyarakat.

Pos terkait