Bulog Subang Ukir Prestasi, Serapan Gabah Melonjak dari 21 Ribu ke 70 Ribu Ton

Purwakarta||Perum Bulog Kantor Cabang Subang mencatat capaian luar biasa dalam penyerapan gabah dan beras sepanjang tahun 2025. Hingga Oktober, total penyerapan mencapai 70 ribu ton, meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun 2024 yang hanya 21 ribu ton.

Perum Bulog Kantor Cabang Subang, dipimpin oleh Djoko Purnomo, bersama jajaran TNI dan Dinas Pertanian. Mencatat capaian tertinggi dalam penyerapan gabah dan beras di wilayah Subang dengan total 70 ribu ton, sekaligus menjadi rekor tertinggi sejak Djoko menjabat.

Data capaian dihitung hingga Oktober 2025, dan disampaikan Djoko saat kunjungan ke Sekretariat IJTI Purwasuka, Senin (10/11/2025).

Kantor Cabang Bulog Subang, dengan kegiatan pemaparan dilakukan di Kelurahan Nagri Kidul, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.

Peningkatan signifikan ini merupakan hasil dari sinergi antara Bulog, TNI, dan Dinas Pertanian dalam memastikan gabah dan beras petani terserap dengan baik. Selain itu, dukungan kebijakan pemerintah melalui program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan kemandirian pangan turut menjadi pendorong utama.

Bulog memanfaatkan sistem maklon untuk menghidupkan kembali 34 penggilingan padi yang sebelumnya tidak beroperasi, sehingga mempercepat proses penggilingan gabah petani menjadi beras.

Program nasional seperti Bantuan Pangan Nasional, Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), dan Makan Bergizi Gratis (MBG) juga membantu memperlancar perputaran stok beras di gudang Bulog.

Djoko menyebut, capaian ini juga sejalan dengan target nasional Bulog yang berhasil menyerap 3 juta ton beras dari petani di seluruh Indonesia, rekor tertinggi sejak lembaga tersebut berdiri pada tahun 1967.

“Alhamdulillah target penyerapan kami tercapai 100 persen. Dari 21 ribu ton naik jadi 70 ribu ton. Ini hasil kerja keras seluruh tim dan sinergi dengan Babinsa serta penyuluh pertanian lapangan,” ujar Djoko.

Lebih lanjut, Djoko menegaskan bahwa Bulog tetap mengedepankan peran sosial melalui program Public Service Obligation (PSO) untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan masyarakat, meskipun sekitar 20 persen dari kegiatan Bulog juga diarahkan pada bisnis komersial seperti beras premium, gula, tepung, dan daging.

Di tengah capaian positif, Bulog juga menghadapi tantangan seperti cuaca ekstrem yang dapat menurunkan kualitas gabah dan tingginya biaya penyimpanan. Untuk mengatasinya, Bulog menerapkan sistem spraying dan fumigasi berkala di gudang, serta menjaga ventilasi agar sirkulasi udara tetap baik.

“Kami bukan semata mengejar untung, tapi memastikan masyarakat tercukupi pangannya dengan harga terjangkau. Karena pangan adalah urusan hidup orang banyak,” tegas Djoko.

Dengan semangat kemandirian pangan nasional, Bulog Subang berkomitmen untuk terus menjadi penyangga pangan rakyat sekaligus pelindung harga bagi petani.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan